Jam
dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih
duduk tepekur di sudut kamar. Matanya sembab. Ia belum berhasil memejamkan
mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di dinding kamar. Menatap wajahnya dan bertanya pada
bayangan cermin “hay cermin, masih kurang cantikkah aku untuknya ?” katanya
sambil mengusap usap pipinya. “Mengapa dia memutuskan aku ?” katanya lagi.
Kemudian Sri kembali ke tempat tidurnya dan berbaring. Meneteslah air mata
untuk kesekian kalinya. Rupanya dia sangat tidak rela kekasih hatinya
memutuskan cintanya.
Jam telah menunjukkan pukul 02.00, namun Sri masih belum
memejamkan matanya. Sri memutuskan untuk menggambil air wudlu dan ia pun
melaksanakan solat malam. Sri berdoa kepada Tuhan setelah selesai solat “Ya Allah,
mengapa ia begitu jahat kepadaku. Padahal aku selalu ada untuknya, apa salah ku
ya Allah. Jika dia jodohku maka kembalikan lah dia kepadaku” Sampai akhirnya
Sri pun tertidur di lantai. Ia tertidur pulas, mungkin karena ia sudah lelah
seharian terus menangis.
Jam terus berjalan sampai menunjukkan pukul 10.00. Sri
baru saja bisa membuka mata dari tidurnya. Saat melihat jam dinding yang
tertempel, ia terkejut sampai meloncat dari tempat tidur. Rupanya hari ini ia
harus bekerja pukul 08.00. Sri bingung tak menentu “bagaimana ini bisa terjadi”
katanya seakan tidak percaya.
Lalu ia berdiri di depan cermin melihat dirinya, matanya
yang sembab seperti ikan karena semalaman menangis. Tidak mungkin dalam kondisi
seperti ini ia nekat berangkat kerja. Terpaksa ia harus bolos kerja. Tiba-tiba
terdengar suara ringtone dari
handphone, ternyata panggilan dari bosnya. Dengan ragu-ragu ia mengangkat
panggilan tersebut “ha...hallo?”. Bos berkata “Bagaimana, Sri dengan meeting
dengan client ?”, mata Sri melotot dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena ia
tersadar bahwa hari ini ia harus menemui client. “Sri, hallo sri ?” bos kembali
bertanya karena tak ada jawaban. “Ma..maaf ,Pak” jawab Sri dan langsung
mematikan telepon karena sangat ketakutan.
Sri kembali termenung “bagaimana bisa hanya karena seorang
laki-laki aku bisa menjadi sekacau ini”. Ia pun menyadari bahwa ia telah
melakukan kesalahan yang membuat hidupnya kacau tak seperti Sri yang dahulu.
Seharusnya ia tak perlu memikirkan masalah ini dengan berlebihan. Karena hanya
akan merugikan dirinya sendiri. Toh, kalau jodoh kan nggak akan kemana. Mulai
hari itu juga Sri akan melupakan semua tentang mantannya dan kembali bangkit menjadi
Sri yang dulu lagi ceria, rajin, dan bersemangat. Meskipun tak semudah itu
melupakan kenangan dari mantan kekasih yang sangat dicintainya itu. Kini Sri
akan lebih fokus kepada karirnya dan giat bekerja untuk masa depannya. Kini ia
yakin bahwa jodoh sudah ada yang mengatur.
Ayo, bangkit Sri!
BalasHapus