Rabu, 18 Februari 2015

Sesal Tiada Arti



Jam dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih duduk tepekur di sudut kamar. Matanya sembab. Ia belum berhasil memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di dinding kamar. Menatap wajahnya dan bertanya pada bayangan cermin “hay cermin, masih kurang cantikkah aku untuknya ?” katanya sambil mengusap usap pipinya. “Mengapa dia memutuskan aku ?” katanya lagi. Kemudian Sri kembali ke tempat tidurnya dan berbaring. Meneteslah air mata untuk kesekian kalinya. Rupanya dia sangat tidak rela kekasih hatinya memutuskan cintanya.
Jam telah menunjukkan pukul 02.00, namun Sri masih belum memejamkan matanya. Sri memutuskan untuk menggambil air wudlu dan ia pun melaksanakan solat malam. Sri berdoa kepada Tuhan setelah selesai solat “Ya Allah, mengapa ia begitu jahat kepadaku. Padahal aku selalu ada untuknya, apa salah ku ya Allah. Jika dia jodohku maka kembalikan lah dia kepadaku” Sampai akhirnya Sri pun tertidur di lantai. Ia tertidur pulas, mungkin karena ia sudah lelah seharian terus menangis.
Jam terus berjalan sampai menunjukkan pukul 10.00. Sri baru saja bisa membuka mata dari tidurnya. Saat melihat jam dinding yang tertempel, ia terkejut sampai meloncat dari tempat tidur. Rupanya hari ini ia harus bekerja pukul 08.00. Sri bingung tak menentu “bagaimana ini bisa terjadi” katanya seakan tidak percaya.
Lalu ia berdiri di depan cermin melihat dirinya, matanya yang sembab seperti ikan karena semalaman menangis. Tidak mungkin dalam kondisi seperti ini ia nekat berangkat kerja. Terpaksa ia harus bolos kerja. Tiba-tiba terdengar suara ringtone dari handphone, ternyata panggilan dari bosnya. Dengan ragu-ragu ia mengangkat panggilan tersebut “ha...hallo?”. Bos berkata “Bagaimana, Sri dengan meeting dengan client ?”, mata Sri melotot dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena ia tersadar bahwa hari ini ia harus menemui client. “Sri, hallo sri ?” bos kembali bertanya karena tak ada jawaban. “Ma..maaf ,Pak” jawab Sri dan langsung mematikan telepon karena sangat ketakutan.
Sri kembali termenung “bagaimana bisa hanya karena seorang laki-laki aku bisa menjadi sekacau ini”. Ia pun menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan yang membuat hidupnya kacau tak seperti Sri yang dahulu. Seharusnya ia tak perlu memikirkan masalah ini dengan berlebihan. Karena hanya akan merugikan dirinya sendiri. Toh, kalau jodoh kan nggak akan kemana. Mulai hari itu juga Sri akan melupakan semua tentang mantannya dan kembali bangkit menjadi Sri yang dulu lagi ceria, rajin, dan bersemangat. Meskipun tak semudah itu melupakan kenangan dari mantan kekasih yang sangat dicintainya itu. Kini Sri akan lebih fokus kepada karirnya dan giat bekerja untuk masa depannya. Kini ia yakin bahwa jodoh sudah ada yang mengatur.

1 komentar: